Bali masih menjadi salah satu daerah endemik rabies di Indonesia, dan Kabupaten Buleleng dengan wilayah geografisnya yang luas, mulai dari pesisir hingga perbukitan, menghadapi tantangan tersendiri dalam pengendalian Hewan Penular Rabies (HPR) seperti anjing, kucing, dan kera.

Rabies adalah penyakit infeksi virus akut pada sistem saraf pusat yang ditularkan melalui air liur hewan terinfeksi. Tingkat kematian akibat rabies mendekati 100% jika gejala klinis sudah muncul. Namun, berita baiknya adalah kematian akibat dapat dicegah dengan tata laksana yang tepat dan cepat. Berikut adalah panduan lengkap alur penanganan kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR).

Cuci Luka Dengan Sabun di Air Mengalir

Ini adalah langkah penanganan awal yang sangat vital dan bisa dilakukan secara mandiri, yaitu dengan mencuci luka dengan sabun di air mengalir selama minimal 15 menit. Rabies itu disebabkan oleh virus, dan virus rabies itu mengandung selubung lemak (lipid) untuk melindungi dirinya. Sabun akan merusak lapisan lipid tersebut sehingga virus rabies menjadi hancur dan tidak dapat berkembang.

Kesalahan yang umum di masyarakat adalah sering kali mengira bahwa luka cukup bersihkan dengan alkohol atau betadine kemudian ditutup dengan plaster luka tanpa membersihkannya dengan sabun. Setiap luka dari gigitan hewan penular rabies harus dibersihkan dengan sabun. Setelah itu baru kemudian boleh diberikan antiseptik seperti alkohol dan betanine untuk membunuh kumat lainnya.

Laporkan ke Puskesmas

Pelaporan ke puskesmas penting, selain untuk mendapatkan tindakan medis, pelaporan berguna agar puskesmas memiliki catatan siapa, kapan, di mana terjadinya kasus gigitan sehingga melalui program penanggulangan rabies, puskesmas bersama lintas sektor yang lain bisa melakukan berbagai upaya penanganan seperti penelusuran lapangan, vaksinasi serentak, atau jika perlu elemisasi HPR

Hampir semua kasus gigitan hewan yang berakibat fatal itu tidak terlaporkan ke puskesmas, sehingga puskesmas tidak mampu melakukan pengawasan kepada pasien sehingga tiba-tiba gejala klinis sudah muncul dan pasien tidak tertangani. Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak karena anak belum bisa menyampaikan kejadian gigitan hewan pada orangtua atau orang sekitarnya.

SOP Pemberian VAR

Perlu dipahami bahwa tidak setiap kasus gigitan hewan penular rabies akan mendapatkan vaksin anti rabies (VAR). Pemberian vaksin dilakukan secara selektif karena alasan logistik yang mana vaksin tersebut jumlahnya terbatas dan harganya mahal sehingga diharapkan yang mendapatkan VAR tersebut memang orang yang memerlukan, selain itu juga untuk mencegah intervensi medis yang tidak perlu. VAR memang termasuk vaksin yang aman dan risiko efek sampingnya ringan, namun tetap saja bisa menimbulkan rasa nyeri, kemerahan, serta bisa menimbulkan demam sehingga penggunaannya harus tepat indikasi.

Penilaian apakah pasien mendapatkan VAR atau tidak berdasarkan risiko luka serta apakah hewan yang menggigit tersebut bisa diobservasi atau tidak. Penjelasan sederhananya adalah seperti diagram berikut:


    I Komang Candra Wiguna

    Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku | NIP. 198908282020121001