Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegepty atau Aedes albopictus betina sebagai vektornya yang mana penderita sampai mengalami kebocoran plasma dan trobosit. DBD sering ditemukan daerah dengan iklim tropis dan subtropis seperti di Indonesia.
Di wilayah kerja Puskesmas Banjar I, jumlah kasus DBD juga termasuk tinggi. Sepanjang tahun 2021 tercatat ada 60 kasus DBD seperti yang ditampilkan pada tabel di bawah:
Berdasarkan Jenis Kelamin
Dalam banyak studi, risiko laki-laki untuk menderita DBD umumnya lebih tinggi dibanding perempuan. Laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas di luar ruangan pada pagi dan sore hari sehingga risiko gigitan nyamuk Aedes aegepty lebih tinggi. Selain itu laki-laki lebih sedikit memproduksi cytokine dibanding perempuan sehingga kemampuan imun tubuh terhadap virus dengue menjadi kurang. Walaupun demikian, untuk tahun 2021 terlihat proporsi penderita DBD di wilayah kerja Puskesmas Banjar I adalah sama 50%, yang mana jumlah penderita DBD dengan jenis kelamin laki-laki adalah 30 orang sementara yang perempuan juga sebanyak 30 orang.
Berdasarkan Kelompok Umur
Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, maka kasus DBD lebih banyak menyerang pada masyarakat usia muda, yaitu balita, anak usia sekolah, dan remaja. Usia muda lebih rentan mengalami DBD karena daya tahan tubuhnya masih rendah, dan pada remaja usia 15-19 tahun faktor risikonya ditambah dengan tingginya aktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan Desa
Puskesmas Banjar I mewilayahi 11 desa yang ada di Kecamatan Banjar, yaitu Desa Banjar, Banjar Tegeha, Banyuseri, Cempaga, Dencarik, Kaliasem, Pedawa, Sidetapa, Tampekan, Temukus, dan Tigawasa. Dari desa tersebut, Desa Banjar, Banjar Tegeha, Dencarik, Tampekan, Temukus, dan Kaliasem merupakan daerah pesisir yang dekat dengan pantai, sementara Desa Banyuseri, Sidetapa, Cempaga, Pedawa, dan Tigawasa merupakan daerah pegunungan yang secara altitudo lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.
Secara teori, nyamuk Aedes aegepty lebih mudah berkembang biak di wilayah pesisir dan urban yang suhunya hangat dibandingkan dengan darah pegunungan yang cuacanya dingin, namun dari grafik terlihat ada beberapa desa seperti Sidetapa dan Tigawasa dengan angka kasus DBD yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang mungkin lebih berperan terhadap angka kejadian kasus DBD seperti kondisi bangunan tempat tinggal, kebersihan lingkungan, serta kebiasaan masyarakat, faktor yang sama juga kemungkinan menjadi penyebab tingginya kasus di Desa Kaliasem.
Berdasarkan Bulan
Faktor cuaca juga berpengaruh besar terhadap kejadian kasus DBD. Indonesia memiliki 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Untuk daerah Buleleng khususnya di Kecamatan Banjar, hujan biasanya mulai turun pada bulan November dan bertahan hingga April seperti yang ditunjukkan oleh bagan di bawah ini.
Curah Hujan di Kecamatan Banjar Tahun 2021Faktor curah hujan umumnya sangat berpengaruh terhadap angka kasus DBD, hal tersebut karena pada musim hujan banyak terjadi genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegepty yang merupakan vektor penularan virus dengue. Nyamuk dewasa akan bertelur pada genangan air yang jernih yang kemudian akan tumbuh menjadi larva nyamuk. Larva nyamuk Aedes agepty kemudian bermetamorfosis menjadi nyamuk dewasa dalam 14 hari yang kemudian siap menyebarkan virus dengue pada manusia.
Dari bagan di atas terlihat bahwa jumlah kasus DBD paling banyak terjadi di bulan Januari hingga bulan Mei yang mana pada bulan tersebut curah hujan masih sangat tinggi. Hal ini semakin menunjukkan pentingnya kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada musim hujan untuk menekan jumlah populasi nyamuk dan jumlah kasus DBD.